Dilan 1990 : Pemuda Islami

*Dilan mendorong Pak Suripto* (kedudukan seimbang 1-1)

*Dilan menghajar Pak Suripto* (Dilan Unggul 1-2)

*Pak Suripto mundur teratur* (Dilan semakin mengungguli 1-3)

*Pak Suripto lari dan meminta bantuan* (Pak Suripto tertinggal jauh, skor 1-5)

*Dilan mengejar Pak Suripto*


Silakan dengarkan lagu di bawah ini, guna mendukung situasi wqwq :

Konten baru ini bernama Bicara Film, isinya ya opini ku~ tentang sebuah film he-he … yha karena gapunya bekal sesuatu tentang film, jadi isinya suka-suka aja lah yaaaYang penting nonton film Indonesia di Bioskop lurd~ jangan nunggu bajakannya mulu, dukung film Indonesia dongggg!.

Jadi beberapa bulan belakangan ini ku sedang senang berkunjung ke Bioskop. Awalnya  iseng aja, penasaran sama film Dilan 1990 ini karena reviewnya banyak … ada yang bilang seru banget, ada yang bilang biasa aja. (jadi penasaran akutuu 😦 )  Udah nonton Dilan, eh keasyikan ha-ha-ha (ketawa yang baku kaya gitu).

Waktu itu ogut nonton hari Jumat satu bulan setelah film Dilan 1990 ini keluar, betapa hebatnya film ini mampu bertahan selama satu bulan lebih dan mampu menarik penonton sebanyak 6.001.000, (Hasil stalking IG @vaneshass, waktu nulis ini ha-ha-ha).

Waktu itu sedang berselancar di linimasa twitter dan sedang populer si Dilan ini … banyak reviewnya, apalagi di linimasa @CenayangFilm khususnya review dari mb Teppy itu sangat menggugah.

Yhaa alhamdullilah film Dilan 1990 ini sangat diminati masyarakat, walaupun dulu waktu awal-awal diumumin mz Iqbal D. Ramadhan (lha apal) yang jadi pemeran Dilan banyak yang protes …

“kenapa Iqbal yang jadi Dilan sikkkk!?!??!!!?111”.

Dan banyak pernyataan lainnya … bahkan ada 1 (yang keliatan) thread khusus di Line tentang hal ini.

Tapi yha alhamdullilah tetap ada yang mendukung …

“itukan pilihan ayah Pidi, yang terbaiq … makanya namanya Pidi Baiq~” (yhaa).

Ya namanya hidup ada Pro dan Kontra lhaa, tapi mz Iqbal mantul (mantap betul) bikin gemeszz.

“Kamu Milea, ya?”

“Iya”

“Aku ramal kita akan bertemu di Kantin”

Tapi akhirnya ngga ketemu 😦  . Setelah itu Dilan ngirim surat lagi ke Milea dan ngeramal lagi … gigih juga Dilan ini, ngga ada kapoknya.

Dilan ini sangat menyebalkan, gemesin, tapi sangat islami … terbukti saat Dilan memberi undangan ke Milea untuk hadir di sekolah dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu.

“Iqra Milea”, ujar Dilan, setelah lupa apa padanan kata dari kata Iqra (yakaliii).

Saat hendak pamit pulang,

“Assalamualaikum, jangan?”, ucap Dilan

“Assalamualaikum”, jawab Milea

“Waalaikumsalam”, balas Dilan.

Ini yang paling bikin sebel.

“Kok tau rumah ku?”, selidik Milea

“Aku juga tahu kapan ulang tahun mu, aku juga tahu siapa tuhan mu”, jawab Dilan dengan mantap

“Allah”, jawab Milea gak kalah mantap

“Sama”, pede banged.

Latar tempat film ini banyak disekolah sama rumah Milea … Tapi ogut ngerasa Milea kurang dapet ceritanya, ogut gabaca novelnya karena waktu itu bukunya best seller terus,  jadi males belinya … tapi kata orang ini sama banget sama novel gak ada yang diubah sama sekali alur ceritanya (benar ngga?). Lagian kan ini judulnya Dilan ya bukan Milea, kenapa malah nyariin Milea (hmm).

Karena ku tidak membaca novelnya, ogut menangkap kalo Milea ini menceritakan Dilan dari sudut pandang Milea (yaiyalahhh), soalnya diawal-awal Milea lagi ngetik sebuah cerita di sebuah Apartemen (tahun 1990 udah ada Apartemen ya?) terus langsung masuk ke cerita yang berlatar Sekolah … yang menceritakan tentang Dilan yang mengajarkan ku, tentang pentingnya mengucapkan selamat tidur (hehehe). Ya ngga sepenuhnya Dilan sih ada masih ada Nandan, Beni, dan teman-teman Lia.

Ogut ceritain dulu nih pemainnya yang diinget selain Dilan & Milea :

Nandan, Ketua kelasnya Milea orang kesekian yang naksir Milea

Beni, Pacar sekaligus mantan Milea

Rani, Temen sebangku Milea

Wati, Konco Cerak Milea, sepupunya Dilan juga (wkwkwk).

Setelah ramal-meramal Dilan & Milea semakin dekat ya walaupun sekadar teman … karena Milea masih milik Beni yang ada di Jakarta. Walaupun Milea masih milik Beni tapi kalo ada Dilan, lelaki lain sudah tidak dipandang Milea 😦 , Nandan yang sudah mencurahkan segala perhatiannya pun tidak digubris sama sekali oleh Milea, apalagi setelah kejadian di Kantin … pengakuan Dilan menyukai Milea dihadapan Nandan, sudah tidak adalagi Nandan malam ini di mata Milea.

Sebagai anak SMA … upacara menjadi bagian dari hidup mereka. Terkhusus Dilan ini … di setiap scene upacara Dilan selalu menjadi bintang diantara siswa lainnya, menurut saya jika dalam 1 semester upacara dilakukan sebanyak 8x, Dilan akan menjadi bintang sebanyak 6x ha-ha-ha … soalnya dari 2 scene upacara (seingat ku~) Dilan selalu menjadi bintang … yang Pertama Dilan dan 2 temannya, dibawa ke depan podium sama Pak Suripto karena mereka ber-tiga tidak mengikuti upacara bendera pada hari Senin itu … pada kesempatan itulah Milea semakin mengenal Dilan. Yang Kedua Dilan gelud sama Pak Suripto, karena Dilan masuk ke barisan kelas Milea dan disamperin Pak Suripto …

*Pak Suripto narik bahu Dilan*

“ADA APA PAK??” tanya Dilan (bacanya kalem aja ya, aslinya mah teriak-teriak)

“HOOO NGELAWAN KAMU?”

*Pak Suripto menampar Dilan*

*Dilan tertampar*

*Dilan mendorong Pak Suripto* (kedudukan seimbang 1-1)

*Dilan menghajar Pak Suripto* (Dilan Unggul 1-2)

*Pak Suripto mundur teratur* (Dilan semakin mengungguli 1-3)

*Pak Suripto lari dan meminta bantuan* (Pak Suripto tertinggal jauh, skor 1-5)

*Dilan mengejar Pak Suripto*

Dilan ditahan oleh guru-guru dan beberapa siswa, Pak Suripto entah melarikan diri kemana … Dilan unggul dalam perkelahian tersebut (apa-apaan Dilan ini guru kok analog dilawan), karena sudah merasa di atas angin Dilan berteriak ke Arah Pak Suripto yang sudah berlalu …

“SURIPTOOOOOOOO PENGECUTTT KAUUUU!!!!!!!!!” teriak Dilan dengan semangadd.

Karena Dilan menang dalam perkelahian tersebut (yakaliii), karena aksinya terhadap Pak Suripto … Dilan terpaksa digiring ke ruang BK untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Di ruangan tersebut dialog kembali terjadi … Dilan dipertanyakan mengapa melakukan hal tersebut …

“Dia menarik baju saya Bu” jawab Dilan

“Pak Suripto memang begitu orangnya Dilan” ucap sorang guru agar Dilan memaklumi hal tersebut (hiihhh)

“Pak, guru itu digugu dan ditiru … kalau Suripto berani menampar saya, berarti saya sebagai murid juga berhak menamparnya”.

Tapi ya temen-temen yang kaya gitu jangan ditiru 😦 , kita ini hidup di Indonesia selagi bisa diselesaikan secara ke-keluarga-an selesaikanlah dengan cara tersebut … biar gak dikit-dikit ribut. (yoeehhh)

Setelah kejadian tersebut Dilan & Milea semakin bertambah dekat (yhaaa), bahkan Milea suatu waktu sepulang sekolah diantar ke rumah, sama Mamahnya Dilan naik jeep + dapet sebuah nasihat. Dilan manggil Mamahnya Bunda, kecuali pas minta uang manggilnya Bundahara (yhahahaha lucu juga ih yaampun 😦 ). 

“Kita tidak bisa menghakimi anak remaja tanpa memahami kehidupannya” -Bunda Dilan

Bandung pada era 1990-an terkenal dengan geng motornya ya? soalnya di cerita Dilan ini panglima tempur sebuah geng dan sekolahnya Dilan diserang sama sebuah geng.

*Gerombolan pengendara motor mendatangi sekolah Milea dan Dilan*

*Gerombolan itu melempari sekolah*

*Batu dan kayu berterbangan, pagar dipanjat* (panjat pagar tidak lebih baik dari panjat sosyal)

Kaca jendela pecah terkena batu yang berterbangan secara liar, memecah keheningan … para siswa dan guru berhamburan keluar dari kelas … menyelamatkan dirinya. Milea mencari Dilan, Dilan tidak ada di Kelas

“Dilan kamu dimana?”

Milea menantang maut keluar dari gedung sekolah, teman-teman mencoba menahan … namun Milea tetap bersikukuh … mencari Dilan, hingga sudut sekolah pun ia jamah tanpa cela.

*sirine polisi menggema*, Mereka para gerombolan membubarkan diri.

*Di sebuah lorong di sudut sekolah*

“Liaaaa” panggilan Dilan

“Darimana?” selidik Milea

“Aku di belakang Gereja Lia” jawab Dilan dengan nafas tersengal-sengal

“Kamu ya?” selidik Milea masih pensaran siapa dalang dari kejadian tadi

“Anhar Lia … Dia nyerang anak sekolah lain” jawab Dilan

“Kamu kenapa keluar kelas?” tanya Dilan

“Nyari kamu!” jawab Lia tegas

“Dasar brengsok!” bentak Lia (sensor)

Milea dan Dilan kembali ke kelas, namun Dilan dipanggil Pak Suripto dan disuruh ikut Pak Polisi untuk jadi saksi atas kejadian ini.

Rasanya ada yang kurang kalo mbahas Dilan tapi gak ada ribut-ributnya (lha tadi udah) sama geng motornya (oooo), yakan Dilan ini anak geng motor yang keras …

Tapi disini gaada adegan bentrok antar geng motor, cuma ada adegan geng motor Dilan yang rame-rame nga tau mau kemana mereka itu 😦 . Harusnya ada gak yah? soalnya kan setelah kejadian penyerangan sekolah, Dilan dan teman-teman berniat untuk membalaskan dendamnya (mantap anak muda sekali, semangat tinggi) … namun di Film ini tidak terjadi karena Wati. Wati memberi info bahwa Dilan ingin menyerang balik geng motor yang telah merusak sekolahnya (mantap Wati, aku padamu~). Hal itu langsung digagalkan oleh Milea dengan cara nyamperin Dilan di warung Bi E’em.

Milea mendatangi Dilan tanpa tedeng aling-aling, langsung ngajak Dilan jalan-jalan … padahal saat itu “Sang Panglima Tempur” sedang mengatur strategi untuk penyerangan. Bingung lah si Dilan itu, ditatapnya Milea dan temannya secara bergantian (ciee bingung nichh) …  setelah nengok-nengok Dilan memilih Milea, mengajak sang pemilik hati (elingooo … pemilik mu hanya Allah semata wqwq) jalan-jalan mengelilingi kota Bandung. yha ternyata Dilan memilih Milea … jadi inget tokoh Bang Min di thread CBSBM di Kaskus 😀 .

Milea ngajak ketemu Bunda … akhirnya Milea sampe di rumah Dilan, dan ketemu adeknya Dilan … cakep banged, ternyata dia adalah personil JKT48 yang bernama Zara (yalord mau ngidol lagi 😦 wkwk)

Dilan pernah mengatakan

“Jangan bilang ada yang menyakitimu, atau orang itu akan hilang”

Tapi ternyata omongan itu tidak terbukti kebenarannya dalam Film ini … ada 2 orang yang telah menyakiti Milea, yang pertama adalah Anhar … dengan berani Anhar menampar Milea (ckckck), setelah itu Anhar terlibat adu fisik dengan Dilan tetapi Anhhar tidak hilang  (apa karena teman ya?), yang kedua adalah Nandan … kekasih Milea dengan beraninya mebentak dan menghina Milea karena salah paham (ckckck (2)), menurut ogut itu yang paling menyakitkan … tapi lagi-lagi Nandan tidak hilang. (Apa karena kejauhan?).

By The Way di Film ini ada Pak Ridwan Kamil lho … Dia menjadi seorang guru (apa orang TU ya? he-he-he) yang menempal pengumuman siapa yang berangkat ke Jakarta untuk ikut lomba cerdas cermat. Dialognya yang ogut inget …

“Di jakarta itu hareudang, mending disini adem”

Saat itu Jakarta memang sedang panas cuacanya (dan?).

Film ini keren, Dilannya sih paling mantap mah hahaha … udah nempel lah tokoh Dilan itu di Iqbal. Saya kagum dengan tokoh Dilan, orangnya manis wkwk, setiap kata dan perilaku yang keluar rasanya gak ada yang sia-sia … seandainya saya jadi Milea pasti saya jatuh hati sangat dalam pada Dilan ini (masih normal guys gua). Dilan ini cara berfikirnya luar biasa hebat, dia bisa melakukan apapun yang akhirnya meluluhkan Milea, buat Milea senyam-senyum, bahkan nungguin sebuah telfon.

Tapi Milea juga gak kalah gemesinnya, Milea ini lebih banyak nurutnya sama Dilan tapi Lia tau kapan untuk tidak nurut sama Dilan. Milea tidak Salah memilihh Dilan walaupun awalnya Lia mengatakan bahwa Dilan ini orang aneh, akhirnya Dilan lah yang selalu dinantinya.

Apalagi adegan-adegan kecil tapi membuat hati berkata “apa-apaan sikkkk” contohnya pas Dilan sama Milea makan bakso … Milea dikasih 1 kerupuk tapi abis itu dibelah, setengah untuk makan disitu, setengahnya lagi untuk makan malam di rumah … Hallooo Mileaa emang dideket rumah gaada yang jual kerupuk??, kenapa nurut Dilan sih (sebel) mana dikasih plastik gede banget yalord. Dan gak kalah apa-apaannya, waktu Dilan ngasih kado TTS yang udah diisi, Milea bahagianya melebihi apapun … padahal ngasih aja pake plastik kresek warna hitam udah lecek 😦 .

Seandainya saya ditanya apakah jatuh cinta pada Milea … jawabanya adalah TIDAK (kalem euy), saya sukanya Wati … lebih cakep Wati donggg.

Seandainya saya waktu itu diberikan kesempatan nonton lagi … yang pasti mau sih wkwk mungkin 2 atau 3 kali cukup 😂😂.

Penilaian saya pada film ini 4.5/5 … Saya suka adegan-adegan kecil yang lebih membuat jiwa raga bereaksi hahaha.


Seperti itu menurut saya … kurang lebihnya mohon maaf 😀 .

Saran dan kritik sangat diterima… Silakan isi komentar di bawah 🙂

atau di Twitter saya.

Terima Kasih atas waktu dan perhatiannya :D. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Ingat! Jangan rindu … berat biar aku saja~


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s